Sunday, September 12, 2010

Kesibukan di Dapur

Dua hari sebelum lebaran, kami sudah sibuk di dapur, ibu sudah membeli ketupat dari pasar yang tinggal diisi beras dan direbus selama 3 jam itu. Ketupat yang beliau beli lumayan besar-besar ukurannya dengan bentuk segi empat, berbeda dengan yang biasa aku beli saat di Jakarta yang lebih dominan bentuk segi lima. Katanya ada makna tersendiri dari sebuah ketupat, intinya ketika menjalin janur menjadi ketupat mempunyai artinya kebersamaan, persatuan, kerukunan, juga saling memaafkan. Coba kalian search google dengan tag "asal usul ketupat", nanti kalian bisa baca sendiri awal mulanya tradisi ketupat ini ada.


Pengisian berasnya juga berbeda-beda, ada yang senang agak keras, ada yang senang sedang, ada yang senang agak lembek. Dan untuk keluarga di Semarang, mereka lebih senang agak lembek, padahal ketupat yang lembek kadang lebih cepat basinya. Kalau di Jakarta, ibuku biasa memasaknya agak keras, jadi bisa tahan agak lama. Dan biasanya diberi sedikit kapur sirih juga beberapa lembar daun pandan.

Bapak kebagian tugas motong ayam, seharusnya anak laki-lakinya yang ditugaskan memotong ayam, tapi ternyata ketiga anak laki-lakinya yang bertampang macho (mantan copet..:P) itu sama sekali tidak berani memotong ayam. Katanya sih kasian liatnya, ga tega, apalagi si sulung yang tampangnya mirip preman itu, dia malah ga bisa liat darah, bisa semaput dia. Payah..

Ayam beres dibersihkan oleh ibu, tapi kemudian ibu berteriak kepada bapak yang sedang menunggu ketupat masak di samping rumah, "Paaak, kukune ra diketok ki piyeee..?" tidak ada jawaban dari bapak. Ibu lalu sibuk mencari pisau tajam tapi tidak ketemu, akhirnya ibu mengambil gunting tanaman dan menggunting kuku ayam pakai itu. Tinggal aku dan adik iparku tertawa melihatnya, adikku nyeletuk, "Bu, sekalian pake gunting kuku lebih bagus tuh..abis itu meni pedi deh..!" ...hehehe...

Hari yang sibuk, tapi sepertinya tidak sesuai dengan yang ibu harapkan, karena selalu saja ada yang kurang...ayamnya kurang banyak lah, jintannya ga ada, tumisnya gosong gara-gara ditinggal lah...dan semua kesalahan yang bikin beliau teriak, "Tobat aku..apa-apa koq salah..!" .. aku cuma nyengir aja di sampingnya.

Tapi tetap saja hasil akhirnya memuaskan.. semuanya ludes di hari pertama, karena selain dimakan sendiri, sebagian dibagikan juga ke tetangga.. senangnya hidup di daerah ya begini, tradisi antar mengantar masih ada, apalagi saat puasa ramadhan, selalu saja ada tetangga yang mengantar makanan.. Kalau di Jakarta mah aku lari ke warung depan buat cari cemilan berbuka...beda memang...

Walaupun sudah lewat, aku tetap mengucapkan :

"Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431H, Mohon Maaf Lahir Bathin.."

Semoga selalu diberikan kesehatan ya teman-teman, biar kita bisa bertemu lagi di Ramadhan tahun depan...amin..

*) kisah saat mudik

..
..

No comments:

Post a Comment