Wednesday, September 8, 2010

Menanak Nasi

"Bapak sedang apa sih?"
"Lagi masak nasi.."
"Kenapa ga pake rice cooker?"
"Masak di sini rasanya lebih enak ntar nasinya.."
"Ooow..."

Aku mendekati ayah mertuaku yang sedang duduk di dingklik (kursi kecil) sambil menghadap sebuah tungku yang di atasnya ada panci dengan beras yang sedang ditanaknya. Tungku itu hanya sebuah batu bata yang ditumpuk membentuk huruf U terbalik, bukan tungku permanen. Asap tebal keluar dari dalam tungku tersebut, suara ranting kayu yang terbakar terdengar kretak-kretek, yang kemudian menjadi bara dengan api kecil memanaskan panci di atasnya.


Sesekali beliau meniup tungku tersebut agar apinya tidak mati, maka saat itu juga asap tebal kembali membumbung keluar menyesakkan nafas. Tapi sepertinya beliau sudah terbiasa, dan santai saja duduk di sana. Tungku itu berada di sebuah pojokan rumah, di sebuah lorong tanpa atap, di bawah tangki air. Jadi mungkin kalau hari sedang hujan, tidak bisa menanak nasi di sana.

Ranting kering yang digunakan berasal dari halaman, karena halaman rumahnya memang banyak pohon besar, sedangkan kayu-kayu lain berasal dari sisa bangunan rumah yang sudah tidak terpakai. "Sayang kan, dari pada dibuang lebih baik dimanfaatkan.." begitu kata beliau sambil menjelaskan kepadaku darimana kayu-kayu itu berasal. "Maklumlah, saya kan orang desa.." katanya lagi sambil tertawa.

Di jaman semua orang sudah meninggalkan peradaban masak pakai tungku, si bapak malah senang dengan cara ini. Sepertinya dia sudah mahir melakukannya, dan biasanya sambil menunggu nasinya matang, beliau akan mengambil buku lalu membacanya di depan tungku tersebut. Tidak ada waktu yang terbuang percuma meskipun sambil masak nasi. Beliau ini selalu kulihat sedang asik membaca di waktu-waktu senggangnya, atau kalau tidak pasti sedang sibuk mengerjakan sesuatu.

Kalau aku mah di suruh nanak nasi di kompor aja palingan juga gosong, apalagi di suruh pake tungku kayak gitu, lhaaa... hasilnya pasti ditanggung amburadul, belum lagi badan pasti bau asap seluruhnya. Ngga lah ya.. rice cooker ajah yang praktis, tinggal colok, beres! Tapi giliran mati listrik baru nyaho deh..

*) kisah saat mudik..
..
..

2 comments:

  1. itu namanya pawon. kalo dingklik itu jojodog. tempat duduk sekaligus alat kontrasepsi

    ReplyDelete