Tuesday, October 26, 2010

Jalan Pagi

Pagi yang sejuk sama seperti hari-hari sebelumnya, langit agak mendung walopun di sisi timur sinar mentari sudah mulai menyapa penduduk bumi. Masih sama seperti 5 bulan lalu, setiap pagi warga yang rajin berolahraga sudah memulai paginya lebih dulu daripada aku.

Jalanan masih basah dengan sisa hujan semalam, mungkin di beberapa sudut Jakarta malah masih banjir, semoga cepat suruh. Saat ini jam 6 saja belum tapi jalanan sudah penuh dengan kendaraan, memang kota yang sibuk Jakarta ini ya?

Kebiasaanku 5 bulan yang lalu sudah hilang, sebuah awan biasanya menemaniku menyongsong mentari, tapi sudah tidak lagi. Aku kehilangan awan itu, dia sudah tertiup angin menuju langit yang lain. Tapi tidak apa-apa, toh aku masih bisa memandangnya dari kejauhan.

Kemacetan yang parah terjadi sejak sore sampai malam tadi, dan mereka rata-rata menyalahkan hujan. Karena biasanya jika sudah hujan Jakarta dipastikan akan mengalami macet parah, pun banjir dimana-mana. Kasihan hujan, dia tidak salah, malah kita seharusnya bersyukur bahwa hujan masih mau datang menyapa bumi. Kenapa mereka tidak berkaca ya? Kenapa bisa banjir? Kenapa bisa macet? Bukankah itu karena manusia sendiri yang sudah semena-mena memperlakukan alam?

Ya begitulah, namanya juga manusia, ingin tinggal nyaman di bumi, tetapi tidak mau merawatnya. Bahkan yang sudah menjadi mayat saja kadang egois, eh bukan mayatnya ding, tetapi pengantarnya. Waktu aku kena macet beberapa minggu lalu di jalan tol, sebuah ambulan pengantar jenazah dengan jumawanya seradak seruduk pengen maju padahal jalanan lagi macet. Aku sempat meruntuk dalam hati, 'emang mau kemana sih? Wong tinggal dikubur aja koq bikin kesal orang..' kecuali kalo dalam keadaan darurat, orang yang harus segera ditangani UGD. Kasihan jenazahnya, harusnya mendapatkan doa yang banyak, ini malah menuai gerutuan orang-orang.

Hhaahh lewatlah...beginilah kehidupan di bumi, serba ingin cepat, serba ingin instan tanpa peduli bahwa yang dia lakukan kadang merugikan orang lain...

Pagi ini aku mampir di tukang nasi uduk, dan membeli gorengan sedikit, lalu sarapan di taman lolipop. Tapi aku tidak bisa duduk di bangku besinya, masih basah semua soalnya. Akhirnya duduk di batu, di bawah jalan setapak semennya... Gorengannya masih hangat, burasnya juga....

Kau sedang apa?...semoga sudah bangun ya prens... :-)

....

Send via my LonelySky

No comments:

Post a Comment