Wednesday, October 6, 2010

Menuju Timur

Mendung menggelayut saat aku keluar rumah, perjalanan sekitar 400 km lebih akan aku tempuh siang ini, menuju kota dimana ikan bandeng mengalami nasib mengenaskan dengan diremek tulangnya, sehingga menjadi panganan/lauk bandeng presto.

Memasuki KM 40 tol Cikampek hujan mulai turun dengan derasnya, padangan tertutup dengan warna putih, jika saja tidak hati-hati kendaraan bisa jadi saling menyerempet. Tapi ntah kenapa misoa masih saja ngegeber kendaraannya padahal aku sendiri sulit untuk melihat jalanan dengan hujan yang sangat deras ini. Tapi ternyata dia malah bilang pandangannya jelas, karena ternyata kacamata polarizernya membantu pandangannya di dalam putihnya hujan. Padahal itu adalah sunglasses...aneh juga.. Walopun begitu tetap saja aku menyuruhnya hati-hati.


Keluar tol Cikampek dan menuju Sukamandi, hujan mulai berangsur mereda, langit mulai terlihat agak cerah, dan semakin cerah ketika memasuki Pamanukan. Kulihat dikejauhan, langit ke arah timur memang lebih terang, yang berarti di sana kemungkinan tidak hujan.

Yang sangat disayangkan adalah kondisi jalan yang sudah mulai rusak lagi, padahal baru saja dibenahi saat menjelang lebaran kemarin. Tidak ada jalanan yang pernah awet di Pantura ini, selalu saja ada lubang, selalu saja ada perbaikan penambalan. Tapi kalau dipikir, masih alhamdulillah dibandingkan jalanan di pulau lain, seperti di Sumatera yang jalan utamanya lebih tepat disebut seperti kubangan sapi, karena lubangnya yang besar yang bisa bikin as roda truk patah.

Ah, pemerataan yang tidak merata, bagaimana orang tidak berlomba-lomba ingin tinggal di tanah Jawa jika kondisinya seperti ini ya?...

Wis ah, mumet kepalaku, ntar lanjut lagi.. Tapi aku pengen makan kuah yang pwedeeeess...biar keringetan, trus hengkang deh pusing di kepalaku... Dimana coba?..

Malah kemecer bayanginnya...

PS :
foto tukang sapu duit di daerah Sukra, Indramayu...

*) laporan dari Pantura

...

Send via my LonelySky

No comments:

Post a Comment