Tuesday, November 9, 2010

Pertengkaran

Seperti melangkah dalam kumpulan asap, ntah kemana arahnya tidak aku mengerti sama sekali. Hanya berusaha berjalan lurus, berharap melihat yang terbaik di depan sana. Tapi hampir sama seperti hendak melewati pohon beringin di lapangan kraton Jogja, kita tidak akan pernah sanggup melewatinya dengan mata tertutup walaupun kita sudah menentukan ancer-ancernya, pasti melenceng ke kanan atau ke kiri.

Begitu juga dengan persahabatan, seharusnya seorang sahabat akan ada saat kita sedih ataupun saat kita bahagia. Bukan selalu bertengkar jika salah seorangnya mengucapkan hal yang tidak enak di hati. Seharusnya seorang sahabat juga tidak mudah tersinggung untuk perkataan yang diucapkan dalam sebuah canda tawa. Tapi ternyata tidak begitu dengan aku, sifatku yang moody ternyata malah menghambatku untuk mengerti mana yang seharusnya aku tanggapi dengan serius atau yang seharusnya hanya sekedar candaan.

Aku memang seperti itu dari dulu, makanya jika ada teman yang mengatakan hal yang tidak enak, aku lebih baik diam, atau menjauh. Jika hatiku sudah baik maka aku akan menyapa mereka lagi, yang mereka tau paling hanya aku sedang malas bicara.

Kemarin seorang teman SMPku aku tanya, kenapa keluar dari groups, dia bilang sedang kesal dengan salah seorang temanku yang selalu menyindirnya. Temanku curhat bahwa dia sangat kesal dengan temanku si A itu, jadi daripada dia selalu naik darah, lebih baik keluar dari groups. Waktu itu aku bilang padanya, namanya juga si A, emang dari dulu begitu kan? kalo ngomong suka seenaknya sendiri, udah bawaannya seperti itu, jangan diambil hatilah...kataku pada temanku. Tapi temanku tetap menolak untuk bergabung lagi, "tunggu emosi gue sehat.." begitu katanya..

Bersahabat memang ada lika likunya, kadang akur seperti dua ekor kelinci, kadang bertengkar seperti dua ekor kucing garong. Tapi yang aku tahu, mereka tetaplah sahabat walaupun pertengkaran mewarnai perjalanan persahabatan mereka. Berbeda jika memang salah satu merasa tidak cocok dan berusaha menjauhkan diri, lalu berusaha mencari teman lain yang punya pikiran sejalan dengannya.

Aku merasa cocok dengan sahabatku ini, kami selalu tertawa dan kadang menangis bersama. Tapi mungkin ada sifat-sifat kami yang egois kadang muncul, hingga terjadilah sebuah pertengkaran. Walaupun aku tahu dia tidak bermaksud demikian, sama seperti aku yang sama sekali tidak bermaksud menyinggungnya dalam hal apapun. Yah, tapi begitulah persahabatan.. bagaimana kita menjalaninya, bagaimana tempaan yang ada dihadapi satu persatu, akan terlihat seperti apakah persahabatan yang kita jalin ini. Akan kokoh sehingga saling dukung satu sama lainnya, ataukah runtuh karena keegoisan masing-masing..?

Untuk sahabatku yang satu ini, aku sangat tidak ingin kehilangan dia, tapi jika pun suatu saat itu terjadi...aku pasti akan sangat menyesal...

....

No comments:

Post a Comment