Wednesday, December 22, 2010

Pengertian

"Jaga kesehatan, makanlah yang cukup gizi, kalo takut gemuk mendingan olahraga atau senam. Sakit mulu tentu bikin suami ga hepi."

Sebuah sms masuk bilang gituh, kalo aku bilang mah seperti yang sok tau saja apa yang aku lakukan setiap harinya. Aku makan koq, tidak kurang gizi apapun, dan aku tidak takut gemuk, karena pada dasarnya aku memang tidak mudah gemuk dari kecil. Setiap hari juga bergerak, apa pekerjaan rumah bukan olahraga? Ya enak kalo misalnya wanita karir, ga mikir rumah, di kantor paling cuma duduk, abis itu bisa fitnes atau apapun. Lha kalo ibu rumah tangga? dari pagi sampai pagi lagi pasti ada saja yang dikerjakan, tidak ada berhentinya, biarpun sakit tetap saja masih harus bergerak, terus mau olahraga lagi mungkin udah kecapean duluan, tapi kalo masih kuat ya silahkan.

Lalu jika pun tubuh kita sering sakit, apa iya bikin suami tidak hepi? Apa dikira istri tugasnya hanya melayani suami sepanjang waktu? istri itu bukan pelayan, istri itu tangan kanan suami, juga hanya manusia biasa yang bisa sakit. Sekarang jika dibalik, suami yang sakit terus, apa bikin istri ga hepi? Sejak kita menikah dengan seseorang, bukankah sudah tertulis akan selalu bersama disaat senangnya pun disaat susahnya, kalo cuma pengen nyari senang mah ga usah nikah aja, cari aja pelayan. Ntar kalo pelayannya sering sakit-sakitan tinggal pecat, gampang toh? Apa tidak pernah membayangkan di tempat lain ada seseorang mau menikah dengan orang yang bahkan tubuhnya tidak lengkap?

Heran, apa tidak pernah berfikir Allah kadang memberikan cobaan pada seorang suami/istri dengan cobaan yang berat. Bisa jadi lebih parah dari yang aku alami sekarang ini, lalu apa kemudian harus meninggalkan suami/istri tersebut dan mencari yang lain? Enak benar berfikiran seperti itu ya? Bukankah kita diajarkan untuk bersabar dalam segala musibah?

Aku pernah bertanya pada seorang teman pria,
"Kenapa suami diperbolehkan mencari istri lain jika istrinya yang sekarang sudah tidak sanggup melayaninya lagi (taruhlah lumpuh).?."

Dan temanku memberikan jawaban yang diluar perkiraanku, "memangnya kalo lumpuh lubangnya akan mampet?" ..kupikir dia akan mulai beragumen tentang pembolehan masalah poligami, tapi malah dia sepertinya tidak memikirkan itu.

Lalu kutanya lagi, "lalu kenapa pria lebih suka menikah lagi ya?.."

"Ah itu mah memang mereka saja yang egois, memangnya dalam pernikahan cuma ada masalah sex saja..!" jawabnya lagi membuatku heran.

Lalu dia mulai ngomong segala macam, aku lupa semuanya yang dia katakan, karena masih mikir dengan jawaban dia diawal percakapan kami. Intinya mah, menikah itu adalah tanggung jawab, apapun yang terjadi dalam pernikahan akan dilalui bersama-sama, baik dalam susahnya maupun senangnya, dan dia menekankan bahwa dalam berumah tangga itu intinya adalah komunikasi, bicara apapun tanpa rahasia, semuanya akan mudah jika komunikasi lancar.

Memang benar di banyak hadist bilang, istri itu harus selalu berwajah manis di depan suami, mengikuti apapun kemauannya, melayaninya jika meminta, pokoknya full of service. Lalu kenapa tidak sebaliknya? Memangnya enak jika istri sudah pasang senyum manis, eh suaminya pulang dengan muka cemberut. Apa enak jika kita minta tolong dengan suara teramah tapi suami hanya diam saja? dan lain-lain... Kalo aku bilang mah, dalam berumah tangga itu butuh pengertian dari kedua belah pihak. Jangan mau menang sendiri, jangan merasa lebih tinggi karena mencari nafkah, dan jangan mudah marah karena merasa seluruh pekerjaan hanya bertumpuk di bahunya sendiri. Intinya cuma pengertian koq..istri ngertiin suami, dan suami ngertiin istri ... that's it..!

Tidak ada yang sulit jika masing-masing bisa menerima semua kelebihan dan kekurangan pasangannya...

Hhhh...jadi nulis beginian gara-gara sms yang bikin sebel...payah deh...
Semoga pasangan kita akan menerima kita apa adanya, dan tidak pernah menyerah disaat susah kita dan selalu tersenyum menghadapi apapun... amin.. Good luck, Friends..!

:-)


.......

No comments:

Post a Comment