Sunday, December 12, 2010

Usia Senja

Pria itu masih terlihat gagah di usia senjanya, jalannya masih tegap, fisiknya masih kuat untuk menyapu ataupun seharian pergi ke berbagai tempat pengajian. Yang berubah hanya beliau membutuhkan lebih banyak waktu istirahat dibandingkan sebelumnya. Selesai mengerjakan apapun, beliau pasti langsung tidur sejam dua jam, lalu bangun dan mengerjakan hal lain. Dan satu lagi yang berubah, daya ingatnya kian melemah. Detik ini bilang A, 15 menit kemudian beliau akan lupa dengan apa yang telah diucapkannya.

Bukan masalah besar sebenarnya, karena beliau masih ingat hal-hal lain, tidak selalu pikun, hanya kadang-kadang saja. Tapi rupanya hal ini sering membuat istrinya kesal, hingga kadang menggerutu dan menjuluki suaminya mbah Surip atau apapun. Kasihan sebenarnya jika melihat sang istri sedang kesal dan marah-marah pada suaminya karena kepikunannya ini. Tapi untungnya sang suami orang yang sabar, beliau tidak marah atau membalas dengan ucapan kasar pada istrinya. Kadang beliau hanya tersenyum saja saat istrinya sudah mulai kesal, dan hanya manggut-manggut mengiyakan ucapan istrinya.

Terkadang rasanya risih mendengar sebuah ucapan kasar terlontar dari bibir istri si bapak ini, tapi aku cuma bisa diam saja. Bukan wilayahku untuk mengucapkan apapun, cukup menjadi pendengar, tanpa harus ikut berpihak pada siapapun. Tapi ini menjadi pelajaran tersendiri buatku. Pertama, tentang fisik seseorang, tidak selamanya otak manusia itu selalu tajam. Usia bertambah, fisik melemah juga daya ingat. Kedua, bagaimana cara kita memperlakukan pasangan kita jika sudah sama-sama tua nanti. Ketiga, menjaga hati seseorang, yakni pasangan kita.

Pelajaran Pertama
Kita harus sadar bahwa setiap orang akan masuk ke masa akhir dalam hidupnya, dan di saat itu, semua kejayaan yang kita miliki akan berangsur sirna. Mata, pendengaran, daya ingat, fisik yang melemah, rambut yang memutih, gigi yang rontok adalah tanda dari masuknya kita ke masa itu. Alami, semua mahluk mengalaminya, jangan takut dan tidak perlu menolak keadaan itu. Manusia datang dan pergi silih berganti, sampai tiba waktunya bumi ini tiada.

Pelajaran Kedua
Menjadi tua bersama pasangan adalah hal yang diinginkan setiap orang, tidak ada orang yang ingin ditinggalkan, atau meninggalkan orang yang mereka kasihi. Menjalani hari tua bersama adalah kenikmatan tersendiri sambil mensyukuri setiap saatnya melihat buah hati berkembang dewasa. Masih memiliki seseorang untuk bercakap-cakap saat malam menjelang, dimana semua anak dan cucu sudah memiliki kehidupan sendiri. Ada yang menemani kita makan, membantu menyapu halaman, atau sekedar duduk melihat kita sibuk di dapur. Kepikunan dan semua kelemahan yang akan datang saat masuk usia senja jangan menjadikan kita seseorang yang kasar terhadap pasangan kita. Bisa jadi diri kita duluan yang seperti itu, bisa jadi kita duluan yang akan pikun, lalu apa enak selalu dimarahi karena sesuatu yang memang sudah jalannya seperti itu tanpa bisa kita hindari? Tidak enak sama sekali, mencoba memposisikan kita di tempat pasangan kita terlebih dulu, jangan asal memarahinya.

Pelajaran Ketiga
Setiap orang menyikapi sebuah ucapan dengan cara yang berbeda, baik sebagai objek ataupun cuma sebagai orang lain yang mendengarkan. Contohlah aku yang cuma bisa mendengar sebuah omelan kasar yang terlontar dari seorang istri kepada suaminya, rasanya risih, rasanya jengah, lalu biasanya ada tanda tanya muncul di kepalaku. 'Koq suami pikun dibentak-bentak sih?' ..Jika aku merasakan hal seperti itu, lalu bagaimana dengan hati sang suami sendiri? Sadar atau tidak, terkadang ucapan seperti itu bisa menyakiti hatinya. Taruhlah jika suami orang yang sabar dan tidak terlalu menanggapi apa yang istrinya ucapkan, tapi bagaimana jika pasangannya adalah orang yang mudah tersinggung? Bisa perang terus tuh tiap harinya. Sebagai pasangan yang telah mengarungi bahtera rumah tangga dari muda sampai usia senja, seharusnya juga kita bisa menjaga hati pasangan kita. Bersyukur suami/istri masih ada, bukannya malah selalu marah-marah untuk hal yang masih sepele. Jangan pula menjelekan pasangan kita di depan orang lain, memarahinya di depan orang lain. Kasian kan? Bukan salahnya memiliki penyakit tua ini, bukan salahnya juga selalu lupa. Tolong diingat saja, bahwa kita juga akan seperti itu nantinya, itu juga kalo usia kita masih berlebih.

Well, kuharap suatu pasangan akan saling menghargai jika mereka saling mencintai, di saat susah mereka, maupun di saat senang mereka. Bisa ga kalian bayangkan, ada yang menemani kita melihat hujan saat kita tua nanti?...pasti menyenangkan... :-)

Semoga langgeng ya, friends ...!

.......

2 comments: