Tuesday, March 8, 2011

Baju Bayi

Sore menjelang malam, mendekati waktu isya saat aku sedang membantu suami mencari barangnya, ga sengaja menemukan baju dan popok ini. Jadi ingat, bahwa dulu pernah aku maknai baju dan popok ini sebagai pemancing untuk mempunyai momongan.

Tiga tahun berlalu kala itu, tanda-tanda perutku akan buncit sama sekali tidak ada, dan iparku bilang agar aku coba untuk menyimpan baju bayi yang telah dipakai, barangkali saja bisa mancing biar perutku buncit. Dan aku akhirnya aku minta baju bayi padanya, karena kala iparku anaknya masih bayi. Diberikannya setelan ini, dan kusimpan di dalam lemari dengan baik. Tiap hari kulihat saat hendak ganti baju, setiap hari berharap baju kecil ini akan membawa mukjizat padaku, tapi ya nihil..

Ada saat dimana aku akan memeluk baju bayi itu saat ku tidur, atau menjadikannya sapu tangan saat aku menangis, atau menyimpannya di bawah bantalku. Baju ini sampai lecek tidak berbentuk karena sering aku untel-untel.

Tahun berganti, waktu terus saja berjalan, aku mulai jarang memegangnya, tapi tetap ada dalam lemari dan masih saja terlihat saat aku berganti pakaian. Sudah tidak ngefek lagi menurutku sebagai pemancing, kadang saat sedih aku sengaja menyembunyikannya di sudut laci lemari hingga aku tidak akan melihatnya. Tapi ya balik lagi, tetap saja aku memegangnya sesekali.

Dan sekarang, setelah lemariku berganti, aku sama sekali tidak pernah melihatnya. Karena lemari dimana baju bayi itu berada ada di kamar lain. Baru kali ini lagi aku memegangnya, makanya jadi ingat kejadian jaman dulu. Pemilik baju bayi ini sudah besar, ponakan perempuanku itu sudah SD kelas 1, cantik dan cerewet juga menyenangkan dan sopan, walopun gayanya berantakan, kelakuannya juga tomboy, lebih 'laki-laki' dibandingkan kakaknya yang benar-benar laki-laki.

Tidak ada yang akan memakai baju ini lagi, paling cuma tinggal kenangan saja, saat aku lihat pun warnanya sudah mulai kekuningan, ntah kena luntur apa itu. Tapi tetap akan aku simpan, bukan sebagai pemancing, tapi sebagai kenangan sebuah rasa di awal kesedihanku. Saat ini, rasa/keinginan itu sudah tidak terlalu membuatku bersedih, sudah mulai pada tahap ikhlas, toh apapun yang terjadi semuanya atas kehendakNya. Sekeras apapun kita berharap, tidak akan terjadi jika Dia belum menurunkan ijinNya. Eh, tapi kadang-kadang masih sedih juga ding...hehehehe..

Well, hidup kan harus terus berjalan, dan aku tidak bisa hanya bersedih terus.. ya kan..? Belum tentu yang kita anggap baik menurut kita, adalah baik menurut Alloh. Jadi biarkan apa adanya, tapi tetap tanpa berhenti berdoa... insyaalloh ya kan..?

:-)

.....

No comments:

Post a Comment