Sunday, March 27, 2011

Ingin Mati

"Kenapa sih tulisanmu sedih terus?.." tanya seorang teman padaku. "Memang ada apa..?" lanjutnya.

"Aku lagi kusut, hatiku lagi berceceran.." sahutku sedih.

"Ga usah dipikirlah, tidak ada masalah yang harus selesai di dunia ini, ada beberapa hal yang memang harus dibiarkan apa adanya tanpa jawaban sekali pun.." katanya lagi, lalu dia mulai bercerita panjang lebar tentang kehidupannya. Tentang semua masalah yang bahkan mungkin lebih parah dari aku, hingga dia berkeinginan untuk mati saja.

Aku mendengarkan saja apa yang dia ceritakan, iya benar masalahku tidak separah dirinya, atau pun masalah temanku yang lain, yang juga bercerita tentang hidupnya. Tapi setiap orang mempunyai cara untuk menyelesaikan sendiri. Lain pria, lain juga wanita, pria (yang aku tahu) lebih memilih untuk pergi meninggalkan semuanya, meninggalkan semua masalah di belakangnya bahkan melupakan apa yang telah terjadi. Jika mereka sudah kuat, baru mereka akan kembali, bahkan menjadi lebih kuat dan tegar dari sebelumnya walaupun proses itu berbeda pada setiap orang, bisa bulanan ataupun tahunan.

Sedangkan wanita, biasanya memilih untuk diam, kemampuan mereka untuk bertahan jauh di bawah para pria, apalagi jika wanita ini adalah seorang istri. Mereka hanya mampu bersabar menahan semuanya, tanpa bisa pergi kemana pun. Bersabar, bertahan, berharap semuanya akan berlalu walaupun selalu saja hati terluka, tapi tetap saja bertahan. Jika masalah terasa benar-benar menghimpit dada, terkadang pilihan dosa pun di tempuh. Yang aku maksud adalah, keinginan untuk mati.

Benar, jika semua jalan terasa buntu dan kita tak tahu hendak kemana, pikiran ini sering merasuk ke dalam jiwa. Hati terasa lelah, pikiran kalut, semua hal yang bisa menghancur akal sehat bisa menjurus kepada keinginan untuk mengakhiri hidup. Then again, kembali kepada keinginan masing-masing individu untuk berubah. Keinginan untuk hidup lebih baik tanpa harus merusak diri biasanya mampu mengalahkan pikiran negatif tadi. Untuk seorang istri, biasanya mereka lebih memikirkan siapa yang masih membutuhkan mereka, seperti anak, kebanyakan mereka berfikir, "jika aku mati, lalu siapa yang akan menjaga anakku, siapa yang akan membimbing mereka, mereka masih butuh aku, dan aku harus kuat. Aku boleh hancur, tapi tidak anak-anakku..." begitulah biasanya seorang istri. Lebih luas lagi biasanya memikirkan keluarga, melingkupi orangtua, saudara ataupun bahkan mertua, apa kata mereka nanti.

Masalah hidup memang beragam pada setiap orang, dunia terkadang terlihat tidak adil bagi sebagian orang yang merasakan pahit getirnya. Mereka (dan aku) terkadang malah menyalahkan pemilik langit karena jalan hidup tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Aku dan kebanyakan wanita pun pria (jika ada) malah sering terpuruk karena terlalu memikirkan hal yang seharusnya dilupakan. Yang ada malah, bukan saja kehidupan orang lain akan hancur karena terseret masalah kita, tapi kita sendiri juga akan hancur karena sudah tidak peduli dengan diri kita sendiri. Seharian menangis, seharian tidak mau makan sampai lemas, hati hancur, badan kurus kering hingga tidak perlu diet untuk menurunkan berat badan, yang lebih parahnya adalah, wajah akan terlihat berpuluh kali lebih tua dari seharusnya. Kalian bisa lihat perbedaan wajah antara orang yang selalu terhimpit masalah dengan orang yang selalu dalam keadaan hepi, lihatlah siapa yang terlihat lebih muda.

Hampir seminggu aku bolak balik melihat cermin, dan yang aku lihat adalah seorang ninik-ninik dengan wajah yang tidak bisa dibilang manis. Aku terlihat hancur, wajahku kuyu dengan garis mata tebal kebanyakan nangis, bahkan kerut yang biasanya tidak ada muncul di sana. Itu bukan aku...bukan aku... Aku biasanya manis koq, selalu tersenyum, selalu berusaha tampil rapih walopun hanya sebatas sewajarnya saja. Aku tak akan bilang aku cantik karena aku memang tidak cantik, tapi aku yakin aku manis itu pun dengan syarat jika aku tersenyum dan tertawa. Tapi tidak kali ini, bibirku terkatup seharian karena menahan sakit yang ada di hatiku, boro-boro tersenyum, yang ada malah wajahku jadi aneh saat diajak tersenyum, jadi kaku.

"Jangan lihat diri sendiri, tapi coba lihat keluar..di sana masih banyak orang yang lebih susah dari kita.." teman wanitaku menasehati.

Ya, di luar sana memang masih banyak yang lebih susah, dan masalahku tidak ada seberapanya dibandingkan yang diluar itu. Aku mengerti dan aku paham tentang hal itu, tapi saat sebuah masalah menghantam diri, semua hal seakan tidak berarti, yang ada aku hanya terpaku dengan diriku, kenapa semua ini terjadi padaku, tuhan tidak adil, aku tidak layak diperlakukan seperti ini. Begitulah, tapi sekali lagi, terkadang kita butuh orang lain untuk mengingatkan kita bahwa kita masih beruntung. Iya sih susah, iya sih sedih dan menderita, iya sih rasanya ingin mati, tapi tetap harus berkaca lagi. Bukan hanya kita yang seperti ini, sekali kita tengok keluar, di sana jauh lebih parah dari apa yang kita alami.

Terkadang hidup terasa seperti sinetron ya..? Setiap babak selalu saja ada kehiperbolisan, susah ya susah banget, hepi ya hepi banget. Padahal tidak selamanya seperti itu, mungkin di suatu masa, semuanya akan berbalik, dan keadaan bisa kembali seperti apa yang kita harapkan. Tapi itulah hidup, selalu saja ada manis asamnya, kalo dibilang selalu datar juga rasanya kurang berwarna, monoton malah serasa tidak hidup sama sekali.

Kalo kata temanku lagi, aku disuruh sabar dan ikhlas cuma itu satu-satunya jalan biar ga stres, karena jika kita sering mendapatkan masalah yang berat seperti ini berulang kali, maka lama-lama kita akan kebal sendiri dan tidak akan mudah terjatuh. "Lagian emang udah punya bekal apa koq kepedean banget pengen mati..?", katanya lagi. Bener juga sih.. ibadahku aja morat marit koq, mana punya bekal aku? Lagian siapa juga yang pengen mati.? Hatiku aja yang terasa mati, bukannya pengen mati.

Tapi...(lagi-lagi tapi) aku koq belum sembuh juga dari kesedihanku ya..? berapa lama lagi waktu yang aku butuhkan untuk bisa kembali menjadi diriku sendiri... ? Aku lelah banget... aku ngerti semua yang aku tulis di atas, tapi aku ga ngerti kenapa aku ga ngerti-ngerti... bingung kan?.. sama..!

*pengen marah-marah rasanya percuma.. who cares..? sopo sing peduli..? NO ONE..!*

PS :... cuma bisa istigfar biar ga lepas kendali...

........

9 comments:

  1. cuma bisa istigfar biar ga lepas kendali...

    Yupz bener mba.. mungkin ini cara paling terjitu..
    serahin ama Yang Maha Kuasa.. dia pasti akanmenolong mu dengan caranya..

    smoga cepet selesai kekesalannya mba.. and bisa kembali ceria lagi.

    AMIN ^^

    miss u mba

    ReplyDelete
  2. jangan mati, karena kita tak kenal reiknkarnasi...
    kenbalilah menjadi bayi...
    tar aku gendong...
    aku pakein pempes juga...

    ReplyDelete
  3. Sefa :
    makasih ya.. aku sedang berusaha menyelesaikan ini, mungkin tidak akan terselesaikan..
    tapi tetap harus dijalani kan?

    miss u too dear Sefa yang baik.. :)

    ---------------
    Raw :
    aku akan kembali jadi bayi..
    belajar lagi dari awal..
    merangkak dan terjatuh, sampai bisa berlari..

    gendong depan belakang nih..?
    pempesnya ukuran M ya..?
    makasih masukannya ya... :)

    ReplyDelete
  4. haalah si mbak ga usah ditargetin ntar juga kita semua akan mati dgn sendirinya kok sesuai kehendak-NYA bukan kehendak kita loh.....

    mending banyak2in positive thinking lah beramal apa aja yg didepan mata sedikit demi sedikit lama2 jd bukit buat bekel nanti....

    eh sapa tahu kesungguhan ini didengar ama yg di atas sana hingga dikabulkan permohonan umatnya......

    I think you will.....wake up wake up....

    ReplyDelete
  5. bloguys :
    ga ditargetin koq, mas..
    kan ditulisannya ku bilang, aku tidak punya keinginan untuk mati, hanya hatiku saja yang terasa mati.. :-)

    dan benar, harus berfikiran positif selalu, dan mulai mengumpulkan bekal buat akhirat..

    makasih buat masukannya ya.. amin amin.. thank you!
    and makasih udah mampir.. :-)

    ReplyDelete
  6. zing zabaar...()
    pastikan ada jalan keluar....()

    ReplyDelete
  7. Mas Adi :
    makasih ya, mas..
    sabar..sabar..ikhlaskan..

    :-)

    ReplyDelete
  8. waduhh judulnya aja uda serem >.<
    yg sabar yah..semoga dimudahkan segala masalahnya :)

    ReplyDelete
  9. Devi :
    iya serem..tapi semoga tidak ada dari teman-temanku yang berfikiran sempit seperti ini..

    makasih ya, Dev.. amin.. :)

    ReplyDelete