Wednesday, March 9, 2011

Membiasakan Diri

Membiasakan diri dengan sesuatu kadang butuh waktu yang lumayan lama, jika hanya menyangkut teknis mungkin tidak begitu sulit. Seperti jika kita mengganti hape dari yang kiped standar lalu kemudian menggunakan hape baru dengan kiped qwerty, pasti butuh waktu untuk menyesuaikan diri, tapi tidak lama.  Atau untuk hal yang sederhana seperti, membiasakan diri membuang sampah pada tempatnya, tidak merokok sembarangan, menutup kran setelah mandi atau berdoa sebelum tidur, etc.

Lain lagi jika menyangkut hal tentang kebiasaan masyarakat, dulu waktu direncakan munculnya sistem angkutan busway, banyak sekali masyarakat yang pesimis tentang hal ini, bahkan banyak yang menolak atau protes. Tapi setelah kemudian busway mulai beroperasi, masyarakat akhirnya mulai terbiasa dan merasakan manfaatnya dan mulai merasa kekurangan karena armadanya sedikit dan selalu penuh sesak.

Penyesuaian juga sering terjadi padaku, contoh sederhananya adalah saat Multiply mengeluarkan menu baru yang bernama Quick Note (QN), banyak orang yang merasa QN tidaklah penting dan hanya ikut-ikutan model status yang di usung Facebook, termasuk aku juga saat itu tidak menyukainya. Apa enaknya cuma ngomong sebaris doang..? Gitu pikirku, dan saat awal-awal kemunculannya, inbox Multiply isinya cuma QN yang tiada habisnya, berisi hal yang tidak penting sama sekali. Sampai-sampai aku harus menyembunyikannya agar tidak terlihat. Tapi lama-kelamaan semuanya terbiasa, dan orang yang awalnya protes mulai berangsur berkurang. Terkadang ada saat kita sedang malas menulis panjang lebar, maka QN ini dibutuhkan juga. :-)

Itulah kecenderungan manusia, belum apa-apa sudah protes, sudah antipati, sudah ogah pokoknya. Belum dijajal, belum merasakan manfaatnya, belum memulai sudah nehi mereketemeh. Awal yang salah sebenarnya ya..? Bukan kah semua hal harus dibuktikan terlebih dahulu..?

Tapi dalam urusan hati/perasaan, membiasakan diri ini lumayan sulit.  Seperti seorang teman yang bilang, bahwa dirinya masih belum sanggup benar-benar melepaskan diri dari mantannya, karena saking sayangnya. Memang sudah lama putus, tapi mantannya ini selalu saja hadir dalam pikirannya. Membiasakan diri untuk berjalan sendiri ternyata sulit baginya, masih saja selalu teringat akan semua kenangan, dia belum sepenuhnya menerima bahwa semuanya telah berakhir, semuanya terasa seperti mimpi saja.  Tapi aku yakin dia menyadari bahwa tidak akan selamanya seperti itu,  tidak akan selamanya selalu bersedih dan tersiksa oleh rasa rindu. Karena dia tahu semuanya butuh proses, ntah berapa lama proses itu akan berlangsung hanya dia sendiri yang bisa merasakannya. Membiasakan diri untuk sendirian dan merasa sepi, membiasakan diri untuk bisa bangkit setelahnya, dan selanjutnya membiasakan diri untuk berlari sekencang mungkin.

Aku hanya berharap, aku juga bisa melewati proses dalam kehidupanku, tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang lebih baik. Dari ulat yang tiada arti kemudian menjadi kupu-kupu yang indah, terbang melintas pelangi...

Will I..?
You will, Ay... !
Hanya semangat dan keinginan yang kuat yang bisa membuatmu tegar, serta menjaga diri agar tidak terjatuh lagi...

PS : photo from google...
...........

No comments:

Post a Comment