Thursday, March 24, 2011

Si Pus

Kucing ini ntah siapa pemiliknya, dia selalu datang di siang hari selesai kami bersantap. Kucing memang tidak mengenal jam, tapi begitulah ritual kucing ini setiap harinya. Aku biasanya meletakan sisa makanan di piring plastik yang sengaja aku letakan di halaman samping, dan kucing siapapun bisa memakannya begitu juga tikus jika masih ada sisa. Mungkin karena itu kucing jantan yang gemuk ini selalu datang menunggu sisa makan siangku.

Kemarin dia datang lagi, tapi aku tidak punya apapun selain tetesan air mata. Ntah kenapa rasanya hari itu aku rasanya sedih banget, kemana pun aku memandang semuanya terasa sepi. Dan ketika kucing ini datang, aku malah mengajaknya bicara sambil menangis, tapi namanya juga kucing, dia tetap saja ngeang ngeong minta makan dengan mengusel-usel tanganku. Aku memang tidak mengerti apa yang si Pus ini bicarakan, tapi dimana pun kucing di dunia ini jika sedang ngusel-ngusel dan mengeong sudah pasti dia minta makan.

Hari yang panas dengan hati yang juga sedang panas, tapi tidak ada satu pendingin pun yang mampu menentramkannya. Aku tidak bisa bicara dengan siapapun, jadi pelampiasanku ya hanya pada si Pus. Iya mungkin aku sudah gila, tapi aku tidak tahu harus melakukan apa, rasanya seperti melayang tanpa mampu menginjakkan kaki di bumi.

Maaf Pus, aku ga punya apapun, besok saja datang lagi ya?  Semoga besok ada daging ayam atau ikan pindang sisa. Hari ini pun aku tidak makan Pus.. rasanya malas banget, tidak ada selera sama sekali. Kalo pikiran lagi untel-untelan gini mau minum aja males, apalagi disuruh makan ogah banget. 

Dunia sedang tidak bersahabat denganku, Pus.. dunia sedang menampakan kepongahannya padaku, biasanya aku akan sabar saja menghadapinya, tapi kali ini rasanya berat sekali. Apa mendingan jadi kucing aja kali ya? Tidak ada yang mereka pikirkan kecuali makan dan kawin, tapi pasti aku tidak akan bisa menulis kalo jadi kucing kayak kamu..

See you tommorow, Pus..

No comments:

Post a Comment