Friday, April 15, 2011

Mencari Tuan Ikhlas

Memikirkan apa yang seharusnya tidak dipikirkan itu ternyata memang melelahkan. As my friend said to me,

"Ga usah dipikirin, Ay..yang sedih nanti kamu sendiri, yang susah juga kamu sendiri, ikhlaskan apapun yang terjadi.."

Temanku mungkin benar, kupikir air mataku akan habis jika aku keseringan menangis, tapi ternyata masih saja ada, aku berusaha menahannya setiap saat, tapi setiap saat juga air mata main nyelonong aja keluar dari mataku yang sudah perih karena kebanyakan nangis.

Satu-satunya jalan memang mengikhlaskan semua, jika itu sanggup aku lakukan, maka aku akan terbebas dari rasa sedih, marah, kesal, dan benci. Jika ikhlas itu dapat aku lakukan, maka aku juga akan bisa lebih tegar dari sekarang, lebih sabar dan bisa menata hatiku lagi.

Yang jadi masalah adalah, aku tidak tahu dimana tuan 'ikhlas' berada, kucari dimana pun dia seperti menghilang ditelan bumi, apa dia pindah ke planet lain aku tidak tahu. Heran banget, setiap hari kadang aku melihat tuan ikhlas ini, tapi ketika aku membutuhkannya dia menghilang seperti angin. Lelah mencari tuan ikhlas ini malah aku jadi sering bengong sendirian, dan biasanya akan sadar jika ada yang mulai memberiku semangat lagi untuk segera berdiri. Semangat itulah yang datang dari teman yang masih suka menyapa "Apa kabar, Ay...sehat?", atau "Pagi, Ay.. sedang apa?"...Dan seketika hati yang lemas dan lelah sedikit terobati, uluran tangan seorang teman memang sangat aku butuhkan saat ini. Mereka memang tidak tahu apa yang terjadi, tapi mereka tidak suka melihatku murung terus.

Mungkin temanku tidak tahu bahwa aku sangat terbantu dengan sapaannya, tapi aku sangat menghargai apa yang dia lakukan. Aku memang sering menyibukan diri dengan semua hal sekarang ini, mencoba tidak memikirkan apapun, tapi ada saat sedang berdiam diri kadang masih terpikirkan juga. Pada saat itulah aku butuh seorang teman, untuk sekedar ngobrol saja dari pada aku mikir yang seharusnya tidak aku pikir. Seorang teman lain bahkan menyarankan, jika sedang suntuk janganlah sendirian, cobalah mencari teman untuk sekedar bertukar pikiran, atau setidaknya bicara apapun, hingga lupa akan kesedihan kita.

Sayangnya sebagai wanita yang tinggal di rumah, aku tidak punya teman untuk bicara di sini, menyapa teman lain pun mereka lebih sering terlihat sibuk. Jadi yang aku bisa hanya menunggu di sapa saja, curang benar memang teman-temanku itu, giliran mau curhat aku selalu ada, giliran aku minta ditemenin ngobrol merekanya sibuk, payah...

Saat ini, apa kalian mau membantuku mencari tuan Ikhlas? apa kalian tau dia dimana? tolong jika kalian berpapasan dengannya, katakan bahwa aku sangat membutuhkan dirinya... tolong ya? Makasih...

Met magriban....

.

No comments:

Post a Comment