Friday, July 29, 2011

Bertemu

Sudah satu jam berlalu, Rin terlihat resah menatap jam dinding di rumah sakit yang lengang itu.

"Kau jadi datang tidak sih..?" bisiknya sambil meremas tabloid yang tadi dibelinya di halaman rumah sakit, tapi kemudian diluruskan lagi dan mulai membolak balik halaman demi halaman majalah itu, tapi pikirannya tidak di sana.  Wajahnya mendung menampakkan kegundahan.

Kringg...! Ponselnya tiba-tiba berdering, sebuah nama yang sangat dia kenal terlihat di layar, segera diangkatnya telpon itu,
"Ya..? Kau dimana..?" tanyanya pelan berusaha menyembunyikan kegelisahannya.

"Maaf, Rin.. aku ada kerjaan tambahan, kemungkinan aku tidak bisa datang..maaf ya..?" suara pria terdengar santai di ujung sana.

Raut wajah Rin semakin terlihat mendung, hatinya terasa panas, tapi dia berusaha menekan perasaannya,
"iya..ga papa.. sampai nanti ya?" telpon ditutup, dia kembali menatap halaman demi halaman tabloid di pangkuannya.  Tapi sama seperti tadi, pikirannya melayang ntah kemana membuat sebuah tanda tanya besar di sudut hatinya.

Rin dan pria ini sangat jarang bertemu, jadi setiap ada kesempatan biasanya akan mereka pergunakan dengan baik untuk sekedar berbagi rasa di sebuah pertemuan yang singkat. Rin kecewa, kenapa pria ini lebih mementingkan pekerjaannya dibandingkan dirinya, bukankah hari ini mereka sudah berjanji..?

"Asik banget bacanya..!" sebuah suara mengagetkan terdengar menyapanya, Rin menengok ke belakang, wajah kekanakan yang dia rindukan ada di sana sedang tersenyum. Rin terpaku menatapnya, lalu segera berdiri dan duduk di samping pria itu.

"Kamu tuh..!" ditepuknya paha pria itu pelan menyatakan protes, pria itu hanya tertawa. Pria ini ternyata berbohong saat menelpon tadi, ternyata dia sudah di halaman rumah sakit dan ingin mengerjai Rin, wajahnya terlihat senang sudah berhasil membuat Rin kesal.

"Maaf.." bisiknya ditelinga Rin,  Rin mengangguk dan tersenyum, lalu merebahkan kepalanya di bahu si pria sambil saling menggenggam tangan. Tidak ada kata-kata yang keluar, mereka hanya diam menikmati kehangatan dari pandangan mata dan genggaman tangan.

"Nona Rinanti..! Rinanti...!"  tiba-tiba sebuah panggilan terdengar, sudah saatnya masuk ke sebuah ruangan putih yang sangat dibencinya.

#Serial Rinanti

1 comment:

  1. cie cie cie..

    Bagossss..!!!

    Saya pikir ceritanya akan menyedihkan,, eh cuma dikerjain toh... bagus mba,,

    ReplyDelete