Sunday, July 31, 2011

Terjatuh

Langit memang sudah jauh ..jauh berbeda daripada sebelumnya, dulu sangat indah, dulu sangat bersahabat, tapi sekarang sudah tidak lagi. Berkali-kali aku mencoba terbang ke sana, berkali-kali juga aku harus terlempar jatuh karenanya, terusir, terbuang.

Begitu bodohnya aku sampai harus mengejar sebuah awan, padahal tahu dia akan segera pergi tertiup angin, tapi aku masih saja kekeuh ingin menggapainya.  Jika datang hari cerah, saat matahari tersenyum hangat, yang aku bisa hanya menatap bayangan awan itu saja. Itu pun sudah senang, then again.. semuanya tidak ada yang abadi, awan itu akan bergerak pergi dengan cepat saat senja datang, seiring hilangnya bayangan hitam di bawahnya.


Aku berlari berusaha mengejar awan itu, tapi karena gelap aku malah terjatuh ke dalam jurang yang dalam. Aku memang tidak mati di dasarnya, tapi kakiku patah dan aku tidak bisa berdiri lagi. Rasanya sakit sekali, ngilu sampai seluruh tubuhku terasa kram.

Langit di atasku mulai gelap, dingin mulai terasa menusuk tubuhku. Tidak kudengar apapun di dalam jurang ini, hanya suara angin berdesir pelan. Ntah siapa yang akan menolongku keluar dari sini, karena tidak ada satupun orang yang tahu dimana aku berada. Apa aku harus menunggu pagi hingga awan itu datang dan menolongku? Sepertinya tidak mungkin, dia sudah pergi jauh tanpa berpaling sedikit pun. Bahkan mungkin dia tidak tahu bahwa ada aku yang selalu mengejar bayangannya di bumi ini.

Kelam, langit sudah sepenuhnya gelap, dan aku masih saja merasakan ngilu di seluruh tubuhku. Awalnya memang aku menangis sampai histeris, tapi walaupun gaungnya memantul diantara dinding jurang, tetap saja tidak ada yang bisa mendengar. Hingga akhirnya aku berhenti sendiri, percuma pikirku.. sekeras apapun aku menangis tetap saja tidak ada yang mendengar,  tidak ada yang peduli. Semua mahluk punya kesibukannya masing-masing..

Apa aku akan mati di dasarnya ya..?

No comments:

Post a Comment