Sunday, September 18, 2011

Air Mata

Hangat jatuh menyusuri pipi, lalu berayun lembut di dagu dan menetes pelan. Tidak ada yang tahu kenapa wanita mudah menangis, saat bahagia saja mereka menangis, apalagi saat mereka terluka dan bersedih. Yang berbeda adalah, jika dalam keadaan bahagia mereka akan menangis di depan kita sambil tersenyum, tapi saat mereka bersedih, mereka akan diam bersembunyi menunggu tidak ada siapapun.

Sebuah surat tertulis di langit semalam, tulisannya tidak jelas dan terpotong-potong, tapi dari yang aku baca adalah bahwa wanita ini sedang merindu...

Dalam diam, dalam gelapnya malam, dalam temaramnya lampu, butiran air mata jatuh menetes di atas bantal bergaris coklat muda....basah, dingin terasa di pipi. Wanita ini berusaha menekan perasaannya yang bergejolak berusaha menyebut sebuah nama. Nama yang sudah hilang ditelan gelombang kesibukan, di jauhnya belantara ibu kota.

Ngilu, begitu tulisnya dalam tinta berwarna hitam tebal, seakan berusaha menegaskan apa yang ada dihatinya. Aku terus saja membaca tulisan wanita ini, aku seperti tenggelam di dalam gelap hatinya, dingin dan beku. Ntah kenapa tiba-tiba air mataku ikut keluar membaca tulisan gejolak seorang wanita yang putus asa ini, yang hanya bisa diam tanpa bisa protes kepada siapapun.

Malam kian larut, kusudahi saja membaca tulisan wanita tadi dan berbaring hendak tidur. Tapi yang terjadi malah aku tidak bisa tidur sampai jam tiga pagi, bengong dengan kepala senat senut karena migren kurang tidur. Yang terpikir saat itu adalah, apakah wanita ini bisa bertahan dengan harapan semunya..?

*kepalaku sakit.. :(

1 comment: