Friday, September 2, 2011

Bumi Berputar

"Kalau melihat mereka saya selalu teringat jaman dulu, rasanya hati terasa mak 'ngek'. Rasanya sedih, karena di jaman itu, banyak orang memandang kami dengan hanya sebelah mata saja. Karena kami orang tidak mampu, banyak orang menghina kami. Mereka bahkan tidak mau berkunjung ke rumah kami ini.
Yang sulit adalah, anak yang paling besar teman-temannya adalah orang mampu, hingga saat temannya memiliki sesuatu, anak kami juga menginginkanya, tapi karena kami tidak memiliki apa-apa, terpaksa apa yang ada kami jual untuk memenuhi keinginannya. Tapi yang terpenting bagi kami adalah, walaupun kami tidak mampu, tapi kami berusaha agar semua anak kami bersekolah dengan layak. Apapun kebutuhan untuk sekolah pasti kami penuhi, walaupun harus menjual harta milik kami... "


Ibu itu bercerita sambil berlinang air mata, mungkin teringat saat dulu perjuangannya bersama suaminya membesarkan kelima orang anaknya. Keyakinan ibu ini sangat besar terhadap pendidikan, beliau boleh tidak makan asal anaknya bisa bersekolah setinggi mungkin. Berharap kehidupan anaknya lebih baik dari dirinya sendiri. Itulah kenapa ibu ini dan suaminya mati-matian mengusahakan anaknya bisa bersekolah.

"Dulu memang banyak yang memandang sebelah mata pada kami, tapi lihat sekarang, orang yang tidak mau berkunjung pun akhirnya mendekat sendiri setelah kehidupan keluarga kami membaik, dan anak-anak alhamdulillah sudah pada mandiri. Orang yang tadinya mampu dan berada di atas kami, sekarang menjadi terbalik. Saya bukanlah menyalahkan mereka karena dulu memperlakukan kami demikian, tapi ini mungkin buat pelajaran ke depannya, bahwa manusia tidak selalu berada di atas. Bumi berputar begitu juga kehidupan, jadi jangan mentang-mentang merasa di atas lalu bersikap sombong dengan orang lain, kehidupan itu tidak abadi...jadi ambilah pelajaran dari setiap langkah kita.."

Ibu itu tersenyum dan menyusutkan air mata terakhir di sudut matanya, lalu berdiri meninggalkan aku diam di kursi ruang keluarga.  Aku merasa ibu ini mempunyai kebanggaan tersendiri melihat anak-anaknya mampu mandiri, "tugas saya sudah selesai.." begitu pernah ibu itu bilang dulu. Membesarkan, mendidiknya dengan agama yang kuat, menyekolahkannya untuk mampu bersaing di belantara kehidupan. Saat ini yang beliau pikirkan tinggal bagaimana beribadah sebanyak mungkin karena usia sudah selangkah lagi menuju pemilikNya, juga mendoakan anak-anaknya agar selalu diberikan kesehatan, kesejahteraan, kehidupan yang baik.

Aku juga melihat anak-anak beliau menunjukan rasa terima kasih mereka dengan baik kepada orangtuanya, berusaha menyenangkan kedua orangtua mereka. "aku ingat dulu mereka bersusah payah menyekolahkan aku, jadi aku ingin saat ini membalas budi mereka.." begitu kata salah seorang anaknya. Aku hanya tersenyum mengangguk tanda setuju.

Di keluarga ini, perjalanan hidup dimulai dengan kerikil yang begitu banyaknya, sampai kemudian mulai berubah menjadi aspal yang mulus, walaupun tidak semulus jalan tol, tapi tetap mereka syukuri, apa yang ditabur dan dipupuk dengan baik dan bersungguh-sungguh, telah dituai dengan hasil yang tidak mengecewakan.

Di belahan bumi yang lain, semua yang berawal dengan baik malah mulai menampakkan keruntuhannya. Kurangnya perhatian, ketegasan yang berujung pada ketakutan bukan kewibawaan, kebebasan yang berat sebelah, kurangnya pendidikan keimanan, juga memberikan contoh yang buruk. Itulah awal dari sebuah keterpurukan... untuk apa memiliki segalanya jika tidak mampu membelanjakannya sebagai mana mestinya..? Jika panutan sudah melenceng dari seharusnya, lalu bagaimana bisa berharap kehidupan seorang anak akan berjalan dengan baik..?

Sebagian dunia yang runtuh itu, ada dalam kehidupanku...

...

# saat mudik 2011

7 comments:

  1. Roda itu berputar, sama hal nya dengan kehidupan. kadang diatas kadang juga dibawah..

    Hidup itu juga cuma titipan, makanya alloh gak suka sama orang yang sombong. Aplagi yang mengaku kesuksesan,kekayaannya serta lainnya itu semata hanya usahanya, bukan karena ridhonya alloh.

    Wah ceritanya baguss,,, "saya merasakan" hihihihihi
    Oia semoga keluarga ibu-ibu itu terus bersyukur dan semoga bahagia dunia-akhirat...

    ReplyDelete
  2. Males mbacanya :p tapi pingin komen ajjahh.. boleh yaaa.. :D

    ReplyDelete
  3. Tulisanmu ini menarik sangat, itulah kehidupan yg selalu berputar, nice :P

    ReplyDelete
  4. Itulah perjuangan seorang ibu yg sejati - moga2 anak2nya dapat membalas kebaikan ortunya. Amin!

    ReplyDelete
  5. great nice posting....ibu adalah segala2nya karenanya surga ada dibawah telapak kaki ibu

    Ops runtuh? hayolah wek ap pren segera kemasi puing2 yg tersisa tuk membangun kembali pondasi yg rapuh itu "mumpung masih ada waktu" ( jreng jreng by ebiet g ade)

    ....Pd umumnya kebanyakan orang sukses biasanya diawali keprihatinan dr bawah.... ortu dgn segala keterbatasannya berusaha sekuat tenaga hingga jungkir balik membekali anak2nya pendidikan formal & moral yg cukup gmn caranya deh ibarat kata “kepala buat kaki” dan “kaki buat kepala” sekedar menggambarkan kegigihan ortu demi masa depan putra-putrinya agar kelak bs cari makan sendiri yg barokah ga membebani ortu....alangkah mulia jika anak sulung stlh kelar gawe mandiri secara estafet sesuai kemampuan bs menolong adik2nya hingga mentas gawe mandiri juga begitu seterusnya....setidaknya langkah ini salah satu bentuk balas budi meringankan beban pada ortu selagi masih ada (hidup) bukan? kapan lagi....

    Anak orang miskin yg mendapatkan bekal pendidikan cukup formal & moral jd modal kuat untuk menjadi orang sukses di masa depan; kontras dgn anak orang kaya jika ga dibekali pendidikan formal & moral yg cukup apalagi sombong hehe gampang tergelincir salah kelola hingga warisan kekayaan yg dibanggakannya cepat atau lambat sirna ludes ga berbekas ga termanfaatkan secara barokah, so sayang memang.

    ....so far itu semua andaikata disuruh memilih hehe alangkah indahnya jadi orang kaya yg baik hati bijak memanfaatkan kekayaannya selain untuk membesarkan usahanya seimbang juga untuk kemaslahatan sesama umat tanpa pamrih....suka bederma CSR, membantu orang miskin, miskin harta, miskin pendidikan, miskin relasi, dstnya yg serba kekurangan itu, plus tdk sombong pastinya, niscaya kekayaan orang ini akan termanfaatkan secara barokah dunia akhirat deh and finally rasa2nya kapanpun dipanggil menghadap-NYA enteng saja....(ngimpi) hehehe

    ReplyDelete
  6. saya idem aja sama komen-komen diatas deh rin...udah panjang kali lebar tuh, segen aye mau nambahin, tar takut kebanyakan sks hehehe

    eniwei, maap lair batin ya rin :-D

    ReplyDelete