Tuesday, October 11, 2011

Bromo Setelah Erupsi

Ada sensasi tersendiri melihat Bromo untuk ketiga kalinya, dua kali yang pertama Bromo masih dalam keadaan hijau dengan rumput Savana yang membentang di sekitar kawahnya. Setelah erupsi dan mengeluarkan asap serta abu vulkanik, Bromo berubah menjadi tandus. Banyak pohon yang mati, begitu juga dengan ladang petani, banyak yang mati serta tertutup pasir. Padang Savana yang menghijau berubah menjadi padang sahara. Pasir dimana-mana hingga menyulitkan mobil dan motor berjalan di atasnya.

Suasana yang bisa ditolerir adalah saat pagi hari, mulai dari sunset yaitu pukul 4.30 am sampai pukul 9 am. Selebihnya kita hanya menikmati debu dan debu saja. Saat pagi hari pasir masih basah dan sedikit sekali yang beterbangan di terpa angin, mengendari motor atau mobil masih bisa dilakukan dengan lancar. Setelahnya sekitar pukul 10 am sampai sore sulit sekali menjelajahi daerah Bromo. Jika kita duduk biasa saja di pinggiran hotel di sana, kita pasti sudah tertimbun pasir.

Tapi jangan kuatir, Bromo masih terlihat menakjubkan walopun sudah tertutup pasir. Waktu kami ke sana juga banyak sekali pengujung yang datang, melebihi saat kami datang sebelum ini. Turis manca negaranya juga banyak, mungkin karena mereka biasa berjalan, mereka bisa dengan santainya berjalan dari ujung ke ujung di daerah Kawah Bromo. Sedang kami yang biasanya manja akhirnya naik kuda. Nanti setelah di bawah tangga baru berhenti dan naik ke atas dengan nafas terengah-engah saking terjalnya.

Aku lupa-lupa ingat ada berapa anak tangga menuju kawah Bromo, kalo tidak salah sekitar 250 anak tangga, sepertinya tidak begitu banyak ya?...cuma karena terjal tadi makanya naiknya setengah mati. Undakannya pun lumayan licin karena kemarin juga tertutup pasir yang basah.


Ada pengalaman seru saat di sana, ojek yang aku kendarai putus rantainya di daerah padang Savana, pasir membuat rantai tertutup pasir dan akhirnya putus. Teman-teman yang lain sudah duluan di depan, dan aku tertinggal di belakang sendirian bersama si mas ojek itu. Dalam hati bilang, nek aku diculik pasti ga ada yang tahu, asli aku sendirian di luasnya Savana yang membentang berpasir di sana. Telpon yang lainnya juga percuma karena ga ada signal. Tapi ternyata aku tidak secantik itu untuk diculik, jadinya aku aman saja bersama si mas ojek, kalo disate pun tidak enak, ninik-ninik pasti dagingnya alot. Dan untungnya hape dia ada signalnya, dan dia menelpon temannya minta dibawakan motor ganti juga rantai baru.  Sekitar 30-45 menit aku di sana, rasanya lama banget karena sendirian. Tapi alhamdulillah datang bantuan dan kami bisa melanjutkan perjalanan.

Oya, jangan pernah membuka kamera kalian saat berada di padang Savana itu (kecuali mengendarai mobil) karena kamera akan kemasukan debu dan macet seperti kameraku...  karena nekad aku mengeluarkan kamera pocket untuk mengabadikan keadaan sekelilingku, kapan lagi kan..? dan akhirnya macetlah kamera itu, pasir menempel di sekujur bodynya. Untung saja kamera gedeku ga aku keluarin, bisa nangis darah kalo ikutan rusak.

Hasil foto silahkan lihat di SINI .. Atau silahkan lihat video lainnya di rumahku di Youtube..



Thank you.. :-)

4 comments:

  1. ono jajal123 barang...
    kapan aku bisa erupsi yoh..?

    ReplyDelete
  2. Setelah erupsi kehilangan keindahannya ya si bromo itu...

    ReplyDelete
  3. @Rawins :
    rumah lama yang terlupakan ituh :)
    raw akan erupsi 3 bulan lagi..

    @cardiacku :
    seperti yang kubilang di atas, indahnya hanya sejak sunset sampai jam 9-10 pagi.. setelahnya hanya debu dan debu..

    ReplyDelete
  4. mantap banget fotonya, apalagi birunya itu...bikin gak kuat

    ReplyDelete