Thursday, November 3, 2011

Berguru

Sudah dua minggu ini tempatku berguru digantikan guru yang lain, karena guruku yang biasanya sedang menunggu keberangkatan menuju ke tanah suci. Guru penggantiku ini seorang pria yang masih muda, perawakannya kurus dan kecil. Waktu awal kedatangannya beliau bilang, "basic saya adalah guru, bukan penceramah, jadi mohon maaf jika saya tidak pandai melucu.." katanya sambil tersenyum.

Dan benar saja, beliau kemudian mengeluarkan laptop dari tas hitamnya dan mulai menerangkan sambil membaca apa yang tertulis di dalam laptopnya. Persis seperti seorang guru, tapi guru ini sepertinya agak pemalu. Beliau terus saja menunduk dan jarang sekali menengadahkan kepalanya dan menatap kami. Gayanya yang datar dan cara penyampaiannya yang kurang menarik membuat kami jadi mengantuk.

Kuperhatikan saja teman-temanku yang duduk di depan beliau, ada yang sibuk mencoret-coret bukunya, ada yang sibuk smsan dan bbm-an, ada yang ngobrol sambil berbisik, ada juga yang terlihat menahan kantuk di pojokan. Aku yang duduknya di belakang dan tidak terlihat cuma bisa tersenyum melihat teman-temanku ini. Bisa kalian bayangkan, teman-temanku adalah ibu-ibu yang butuh pencerahan dengan gaya yang menarik, mereka bukan anak-anak sekolah yang cukup diberi makalah dan disuruh baca sendiri. Jadinya beginilah, pada ra nggenah semua termasuk aku.

Aku apalagi yang duduk di belakang, sama sekali tidak tahu menahu apa yang dilakukan guru pengganti itu, aku hanya tahu dari isyarat teman yang mengatakan bahwa sang guru hanya menunduk saja sejak tadi. Melihat kiri kananku, teman-temanku sedang asik dengan mbleberinya masing-masing. Karena penasaran kubuka juga akhirnya mbleberiku, ehyalaaaahh...mereka pada ngobrol di groups ngomongin guru pengganti ini, tentang bagaimana beliau mengajar, tentang cara penyampainnya yang sulit dimengerti kami semua.

Ketika guru pengganti itu selesai membaca tulisan di laptopnya, dan menatap kami lalu bertanya, "apa ada yang mau ditanyakan...? Silahkan bertanya.." beberapa temanku mulai mengeluarkan pertanyaan, daripada ngantuk mendingan tanya, gitu kata salah satu dari mereka berbisik. Sebuah pertanyaan diajukan, yang bertanya adalah temanku yang memang aku akui pengetahuannya tentang ilmu agama sangatlah baik, dia juga sering berorganisasi di mana-mana, aktif mengikuti pengajian dimana pun. Makanya pertanyaan dia itu sangat tinggi dan berbobot. Waktu dia bertanya pada guru pengganti itu, kelihatan sekali guru ini tidak menguasai apa yang ditanyakan temanku itu, jawabnya muter-muter sampai kami yang mendengarnya bingung. Berbeda dengan guru yang biasanya, yang akan menjawab dengan tegas dan dengan wawasan yang lebih luas hingga temanku puas dengan jawaban beliau.

Dua minggu berturut-turut seperti ini, hingga teman-temanku mulai komplen dan ingin mengganti guru. Tapi kami bingung mengatakannya bagaimana, takut guru pengganti itu tersinggung. Tapi ternyata ada keajaiban terjadi, guru asliku gagal berangkat ke tanah suci karena tidak dapat visa, dan akan mulai mengajar lagi minggu depan. Aneh juga, biasanya beliau selalu bisa lolos berangkat ke tanah suci, apalagi beliau adalah pemandu di sana, koq ini malah ga bisa berangkat. Sepertinya setiap tahun memang selalu saja ada masalah dengan keberangkatan ke sana..ntahlah..

Well, setidaknya guruku akan kembali mengajar, dan kami tidak perlu menyakiti hati guru pengganti itu karena sudah diberitahu sebelumnya oleh guru asliku.

Duuhh..aku nih sebenernya mo cerita hasil rampokan kue dari tempatku berguru, koq malah cerita soal guru pengganti sih..? .. Ahh...sampe mana tadi ya..?

Au ahh.. wis mumet duluan.. mana foto ama isi tulisan ga nyambung...
mendingan tidur ah...

No comments:

Post a Comment