Wednesday, November 9, 2011

Sholat Ied Adha

Langit terlihat mendung di minggu pagi saat kami melangkahkan kaki ke masjid jam 6.30am, sejak semalam takbir sudah berkumandang dari masjid di seberang komplekku itu. Pengurusnya juga mengumumkan pada kami bahwa kami sebaiknya membawa alas atau koran untuk menggelar sajadah di lapangan. Di sana memang sudah tersedia karpet bermotif sajadah berwarna hijau membentang, tapi bagi sebagian jamaah yang tidak mendapat tempat, mau ga mau menggelar koran yang mereka bawa itu.

Aku baru sadar sekarang, sholat Ied Idul Adha tahun ini sedikit sekali jamaahnya, tidak seperti sholat Ied saat lebaran Idul Fitri. Padahal kalo Idul Fitri kebanyakan orang mudik, dan pasti yang tersisa sedikit, tapi orangnya malah lebih banyak dibanding Ied di minggu pagi ini, mungkin sibuk di rumah..

Pagi itu aku mendapat tempat di atas karpet, satu shaf dengan tetanggaku. Kami tidak banyak bicara, hanya bersalaman dan berdiam diri mengikuti imam. Sholat selesai, dilanjutkan khotbah. Aku tidak begitu mendengar apa yang beliau katakan, karena di sekitarku para wanita sibuk bicara sendiri-sendiri, sampai kemudian toa-nya mati sebelah dan suara khotibnya makin tidak terdengar. Kata suamiku, di dalam masjid pun berisik dengan suara ibu-ibu hingga dia pun tidak jelas mendengarnya. Ga tau kenapa wanita itu senang sekali bicara ya..? Tapi terlalu pendiam kayak aku juga ga bagus kayaknya.. :-)

Tapi sempat kudengar seorang ibu bicara, "ceramah khotibnya ga menarik, jadi jamaahnya bosan..mana lama lagi..." dia bicara sambil membereskan rukuh dan sajadahnya, siap-siap untuk pulang. Lalu kulihat satu persatu para ibu mulai beranjak pergi, sepertinya ribet dengan anaknya yang merengek, atau para sepuh yang mulai merasa pegal, juga yang ada urusan lain. Aku diam saja di sana, tidak bicara...karena ada yang bilang (hadist) bahwa mendengarkan khotbah adalah rangkaian sholat Ied itu sendiri, jadi dilarang bicara.


Sesekali aku melihat jam, ntah untuk apa melihat jam, mungkin bingung. Mau dengerin ga kedengeran, diam aja juga bingung. Jadi kuambil saja foto anak-anak yang sibuk merengek minta dibelikan balon. C-klik..! dua kali cukup... lalu diam lagi sampai semuanya selesai. Dimana ada keramaian, di sana selalu saja ada tukang jualan, ntah kenapa mereka ga ikut sholat Ied juga. Mungkin kalo pas bubar keburu pada kabur semua pelanggannya kali ya..? 

Minggu yang sepi, takbir masih terus berkumandang di kejauhan memantulkan gema di dalam hati.. qurban secara fisik sudah terlaksana, lalu apa qurbanku untuk rohaniku..?

1 comment:

  1. kok ada tukang mainan?? >.< hhahah

    Kalo Solat ied Adha di kampung saya sangat berjalan khidmat bahkan tak jarang dari mereka yang berpeci putih serta berpakaian seperti jubah putih meneteskan air mata. Salam-salaman serta sesekali kalimat maafpun terlontar dari mulut teman-teman dan tetangga saya :D

    ReplyDelete