Tuesday, February 21, 2012

Tepar

Seorang suster dan dua orang asisten dokter asik mengajakku berkelakar di ruang operasi, saat itu aku sudah dalam keadaan tiduran dan siap di geret ke ruang bedah.  Aku hanya tertawa menanggapi kelakar mereka, body yang trepes tanpa bra, cuma pake cd ama baju operasi berwarna ijo dijadikan bahan tertawaan mereka.

Dokter datang dan memastikan gigi nomor berapa yang harus dieksekusi. Lalu ranjang besi itu pun di tarik masuk ruang bedah. Kulafalkan berbaris-baris doa, lalu aku pun tertidur dalam hitungan ke lima. Ntah apa yang terjadi saat itu, sampai kemudian seorang asisten dokter sayup-sayup memanggil namaku. Terbangun dalam keadaan pusing teramat sangat, diinfus dengan sebuah selang oksigen menempel di hidungku. Melek beberapa saat dan akupun tertidur lagi.

Kemudian terbangun karena ada percakapan terdengar di sampingku, seorang pria yang juga baru dicabut giginya. Kami tidak saling melihat, tapi dia mulai mengajakku bercakap pelan-pelan. Aku mulai agak sadar walaupun masih pusing dan menanggapi pertanyaan pria yang baru saja menikah 6 bulan ini. Pria ini lancar sekali bicara, sepertinya efek biusnya sudah hilang, sampai ngobrol panjang lebar dari soal gigi sampai akhirnya curhat pengen punya anak. Lhaaa...  aku setengah nyengir menanggapi semua pertanyaan dia.

Lalu dia duduk, masih agak pusing katanya, tapi dia kemudian turun dari tempat tidur. Aku masih saja tidak bisa bangun, padahal aku yang dioperasi duluan, lha koq sadarnya dia duluan ya?.. kepalaku berat, aku pun mulai mual, dan... hoeekk..! sudah tidak bisa ditahan lagi, keluar semua isi perut yang cuma sedikit itu, karena sudah puasa sejak jam 12 malam, sedangkan operasinya jam 10 pagi.

Sejak saat itu, aku terus saja muntah dan pusing selama berjam-jam, sedangkan pria curhatan itu sudah melenggang dengan istrinya. Aku hanya bisa bengong, kurasa wajahku benar-benar ancur lebur saat itu, sampai malam menjelang masih juga muntah-muntah. Maagku diduga akut karena efek anastesi purba, yang pembiusannya mirip kayak di tipi-tipi dengan menutup hidung.

Akang membelikan teh manis hangat dan menyuruhku makan, tapi tidak bisa, cuma 2 keping biskuit saja yang bisa kutelan dengan susah payah, tapi 30 menit kemudian sudah muntah lagi, keluar semua dah yang tadi...

Dan keputusan pun diambil, aku harus dirawat malam ini juga... akhirnya aku bermalam minggu di rumah sakit deh... hehehe.. :-)

Banyak sekali kejadian di ruang observasi, dari seorang bapak yang mo minta pup dan pis tapi pispotnya ga diambil berjam-jam sampai dia meringis menahannya, lalu ibu-ibu yang abis di sesar tapi menggigil kedingingan efek obat bius, orang tua yang kakinya patah karena jatuh dari lantai dua tapi masih tertawa. Tapi yang mengharukan adalah, seorang ayah yang mengadzankan putranya di sebuah box bayi... aku keleyengan tapi aku terharu mendengarnya :-)

Capek ah, bobok yuk.. perut masih ga enak..

6 comments:

  1. Moga cepet sembuh ya mbak, abis ini makan bubur aja....makan bubur enak kok...:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih doanya nuks.. :)
      alhamdulillah udah mayanan sekarang..tinggal recovery aja..
      dan ini tiap hari makan bubur...hehehehe

      Delete
  2. akangnya baik banget :)

    mbak ay istirahat yang banyak. ikut aturan dokter.
    cepat sembuh yah, rindu aih aihhh... lama gak nongol di kotak komen aku :-(

    ReplyDelete
    Replies
    1. akangku emang baikkkk...*ehem* :D

      makasih ya syam..
      aku juga merindukanmu..
      maaf lama ga komen, nanti aku mampir deh..
      micuuhhh..:-*

      Delete
  3. cepat sembuh ya mbak ..
    hebat saat sakit msih ttep berkarya .. ;)
    salam sukses aj mbak ..

    ReplyDelete