Tuesday, June 26, 2012

Berdamai Dengan Ketiadaan

Peri itu hanya diam saja saat semua pintu tertutup rapat di depan matanya, dia juga diam saja saat tidak ada lagi sapaan dan percakapan yang membuat hati tertawa, lalu dia juga tetap diam saat semua yang dia ungkapkan dalam lukisan langit tidak pernah berbalas apapun. Tapi saat lukisan pribadi itu sudah menyebar di langit yang lain dia tidak bisa tinggal diam.

Semua lukisan yang berada di rumah itu adalah miliknya, dan yang berhak melihatnya hanyalah dia dan sebuah awan di langit, tapi ketika lukisannya hanya dijadikan bahan kelakaran dan dianggap tidak penting, maka peri itu pun akhirnya marah. Sepenuh hati dia melukisnya, sepenuh hati meletakkannya di rumahnya agar terlihat indah, tapi ntah kenapa awan itu malah mengambilnya dan membiarkan orang lain melihatnya. Bukan kah itu rahasia..? bukan kah itu kepercayaan yang seharusnya dia emban selamanya..? Dimana kata janji yang dia ucapkan untuk menjaga semua lukisan itu..? Apa dia sudah lupa..? Semua lukisan itu sangat berharga baginya, tapi kenapa awan itu memperlakukannya seakan semuanya tidak berarti..?

Kemarahan kemudian menyelimuti hati sang peri hingga semua pintu harus ditutupnya rapat-rapat, agar tidak ada lagi orang yang akan mencuri lukisannya dan menjadikannya bahan cemoohan. Kemudian dia melakukan seperti apa yang awan itu pernah lakukan padanya saat marah dulu, diam tanpa kata, diam saat di sapa, diam saat mengentuk berkali-kali, diam lalu mengunci semua pintu dan jendela, diam seribu bahasa...

Selama berbulan-bulan peri itu menunggu apakah awan itu akan meminta maaf padanya karena telah melakukan kesalahan, tapi rasanya percuma, maaf itu tidak pernah sampai di telinga sang peri seakan kejadian itu hanyalah kejadian biasa saja, tidak berarti sama sekali. Lalu keinginan untuk membakar semua lukisannya sempat terlintas, "untuk apa semua ini jika akhirnya hanya akan menyakitiku saja...?" begitu pikirnya. Tapi tidak... dia terlalu sayang dengan rumah itu. Rumah itu bukanlah rumah yang indah, tapi di sanalah sang peri bisa menjadi dirinya sendiri. Dia tidak mungkin menutup rumah itu, lukisan hidupnya terpapar semua di sana. Semua rasa bahagia, rasa sedih, semua tangis dan tawa, semua jatuh bangunnya terangkum di sana dan tak kan mungkin dia tinggalkan. Bahkan jika membacanya kembali, bisa terlihat seperti apa sifat sang peri sebenarnya.

Saat ini, tempat menepi sang peri hanyalah rumah itu, sendirian tapi tidak apa-apa. Dia akan terus melanjutkan melukis di sana sampai dia tidak sanggup untuk melukis lagi. Dan jika saat itu tiba, maka semua lukisannya pun akan ikut terkubur bersamanya kelak.

Ketika isak tangis dan derai air mata sudah tidak mampu lagi menggetarkan dan meluluhkan hati, maka lebih baik diam dan berhenti menangis ...  "yang aku rasa ini bukanlah dendam, tapi rasa terluka yang dalam, seharusnya sebagai sahabat kau mengerti itu...dan bukan aku yang memutuskan untuk menghentikan pertemanan ini, tapi kau lah yang lebih dulu memulainya.."  bisiknya kelu. Apa artinya sahabat, jika kepercayaan pun tidak bisa dijungjung tinggi...

Senja memudar di ufuk barat, menjemput malam kelabu di setiap sudut meganya. Sang peri pun bangkit, menghapus butiran bening di wajahnya lalu berlalu. Mulai saat ini, dia akan berdamai dengan ketiadaan...

Malam yang sepi...

*)kisah langit

5 comments:

  1. Cukuplah Sang Peri melanjutkan melukisnya. Karena lukisannya akan menjadi sahabat yang tidak akan pernah mempermainkannya. Bahkan jika dia disakiti oleh kita sekalipun, dia akan tetap terima, dengan tetap memandang kita. Kecuali kita yang membuangnya. teruslah melukis, duhai Peri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. dia pasti akan melukis terus sampai nafas terakhirnya.. :)

      makasih dah mampir mas..
      eniwei, knp akhir2 ini komennya masuk ke spam trus ya?
      apa di tempat lain juga begitu?

      Delete
  2. iya mbak. saya di-blacklist nih hehe... blogspotnya sirik ke saya, haha... iya dimanapun berlaku nih...kayaknya mesti ganti identitas nihh, hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. :D ga papa, tetap bisa kubaca koq, soalnya setiap komen yang masuk terkirim ke emailku.. :)

      makasih ya mas..

      Delete
    2. hehe, iya, saya juga nggak masalah koq. yang penting komen, hihi..

      Delete