Monday, November 11, 2013

Malaikat Yang Berubah Tak Peduli

Setelah membayar resep obat, aku melangkahkan kaki keluar gedung rumah sakit dan duduk di pelataran sempit di sebuah bangku besi yang bolong-bolong bermotif polkadot. Sebelum duduk kudapati sebuah dompet merah kecil ada di bawah bangku tersebut, kuambil dan meletakannya di samping sebuah tas tak bertuan di sampingku. Di sana duduk seorang ibu yang mengatakan bahwa pemilik tas tadi sedang mencari dompetnya, dan tasnya ditinggal begitu saja.

Tak berapa lama datang seorang ibu sepuh berjalan tertatih dengan menggunakan tongkat besi. Beliau melihat dompet merahnya sudah ada di bangku besi itu. Berulang kali beliau mengucapkan syukur alhamdulillah dan berterimakasih padaku karena telah menemukan dompetnya. Aku yang saat itu sedang menerima telpon jadi ga konsen antara mendengarkan ibu itu berterima kasih dan mendengar temanku bicara. Temanku sampai bingung aku ngomong dengan siapa.

Sebenarnya kalo ibu itu teliti, beliau pasti menemukan dompetnya di bawah bangku itu, cuma mungkin karena faktor usia, juga gerakan yang sulit, plus panik..ibu itu malah kembali ke kamar mandi karena merasa dompetnya tertinggal di sana tanpa melihat ke bawah bangku besi terlebih dahulu.

Sementara itu komunikasiku terputus dengan temanku karena sinyalnya hilang, dan saat aku menatap ibu sepuh tadi, kembali beliau bilang terima kasih karena telah menemukan dompetnya, beliau bilang kalo dompetnya benar-benar hilang pasti dia tak akan bisa pulang. Aku cuma senyum saja, lalu bertanya apa beliau datang sendiri. Ditanya begitu ibu itu malah membuka kacamatanya dan mengusap air mata yang tiba-tiba mengalir. Dan kisah pun dimulai..

Ibu sepuh ini sedang sakit, kena penyakit gula parah, dan suaminya baru saja berpulang dipanggil Sang Pencipta. Dulu biasanya suaminya yang mengantarkan ibu itu berobat, tapi sejak suaminya ga ada, ibu ini selalu berobat sendiri. Lima orang anaknya sibuk semua katanya, ga ada yang bisa mengurus beliau. Jadilah dengan kondisi tertatih pun ibu itu harus ke rumah sakit sendiri. Beliau bilang anaknya semuanya berhasil, bahkan ada yang dokter, tapi sibuk dan tak sempat mengurus ibunya ini.

Aku terus saja menyimak apa yang beliau katakan, panggilan telpon yang bolak balik masuk krang kring krang kring dari temanku tidak kuangkat, kubiarkan saja. Rasanya ga tega dengerin ibu ini berkisah, sudah sepuh, sendirian, berjalan dengan tongkat. Salah satu jarinya hampir hilang termakan penyakit gula. Ngilu... :(

Tiba-tiba hujan deras turun, kami yang duduk berdua mulai terkena tampiasnya. Bangku pun aku geser agar hujan tak mengenai kami, tapi ternyata percuma. Tetap saja kami kena. Ibu itu aku ajak masuk agar tak kena hujan, tapi beliau menolak, dia mau di situ saja. Kutawarkan cari payung pun menolak, ntah kenapa. Mungkin sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Aku terpaksa meninggalkan beliau karena harus mengambil obatku, tapi sempat wanti-wanti pada ibu itu karena lantainya licin, juga kalo ibu itu butuh seseorang ada suster di samping tembok. Ibu itu hanya mengangguk tersenyum. "Makasih, dek.." katanya saat aku berlari kecil kembali ke arah gedung.

Obat sudah ditangan dan aku berjalan pulang sambil setengah berfikir, anak adalah malaikat bumi yang dikirim Tuhan pada kita. Setiap orang mengharapkan kehadirannya termasuk aku. Tapi ketika malaikat bumi itu berubah menjadi pribadi yang tak peduli, maka kita para orangtuanya hanya mampu diam menangis dalam doa berkepanjangan. Lalu apa yang salah..?

Ntahlah...kehidupanku pun sama saja, ga beda jauh. Semoga saja aku bisa membahagiakan orangtuaku selama aku atau mereka masih hidup.. dan semoga ibu sepuh itu sehat terus dan anaknya bisa lebih peduli..amin.

PS : gambar dari gugel

26 comments:

  1. mudah - mudahan ibu sepuh itu cepet sembuh, anaknya sampai gak ada yang peduli dan mengantar berobat, mudah - mudahan sayah gak termasuk malaikat bumi yang seperti itu...

    ReplyDelete
  2. Malaikatku selalu ada ada di sampingku lho mbak. Terima kasih sudah membantu mengingatkan malaikat-malaikat lain yang masih punya orang tua. Salam sehat ya mbak Rin!

    ReplyDelete
    Replies
    1. :) pupuk akhlak...sebelum menjejali para malaikat itu dengan ilmu...
      begitu katanya sih...

      Delete
  3. saat baca cerita ini saya langsung teringat ibu saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. owh.. kalau nggak baca ini nggak teringat ya Mas?

      Delete
    2. kalo ga baca ingetnya mangga mang yono...hihihi

      Delete
  4. kasihan nenek itu ya. sudah tua perginya sendirian...hohoho

    yang sabar ya nek...

    ReplyDelete
    Replies
    1. walopun berjalan tertatih, beliau masih sanggup berjalan pelan-pelan..

      Delete
  5. saya pengen menangis mbak, kasian sekali ibu itu.
    doa ibu sudah terkabul, mungkin doanya semoga anak anaknya sukses, setelah doa terkabul memang anaknya sukses tapi tidak ada yang mempedulikan keadaan ibunya.
    saya tak berdoa semoga anak saya jadi anak sholihah saja deh mbak, sukses atau tidak bukan menjadi masalah

    ReplyDelete
    Replies
    1. amin...semoga anaknya mas agus menjadi anak yang sholehah :)
      insyaalloh sukses akan mengikuti kalo anaknya juga baik..

      Delete
  6. Astaghfirullah..saya sampai ndak tega dengar ceritanya mbak, naudzubillah min dzalik..saya ndak abis pikir kok ya ada anak yang tega "membiarkan" orang tuanya seperti itu, kalaupun bener2 ada urusan yang ndak bisa ditinggalkan, mbok ya bisa nyuruh orang/ saudara untuk menemani beliau itu..kasian, udah sepuh malah sendirian ke rumah sakit.

    Makasih mbak udah diingatkan, semoga kita semua bukan termasuk dari golongan mereka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. makanya, aku ya heran, kenapa ga sodaranya ato mbaknya ato sapa gitu yang nemenin kan bisa..

      sami-sami..pengingatku juga..

      Delete
  7. m'baca ini jadi inget almarhum bapak yang baru 45 hari lalu meninggalkan kami...jadi brebesmili deh tuh....menyesal, kenapa saya ngga menyayangi beliau segenap jiwa raga, seperti mereka menyayangi kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. innalilahi...maaf mang, aku ga tau :(
      semoga seluruh dosa beliau diampuni, diterima seluruh amalnya dan diberikan tempat yang terbaik di sisiNya...amin..

      didoain aja mang, katanya doa anak insyaalloh langsung sampai koq..

      Delete
    2. hehehe...aaaaamiiiin, makasih.
      maklumin dah ya, suka lebay kalo lagi mau M.

      betewe saya dapet ini nih dari sinih http://anggota.komunitas-kpk.org/
      Si tomboy pemilik akun Gtalk (Hangout) mistyaye dan LINE sicemutz ini memiliki tanggal lahir yang diperingati oleh seluruh warga Amerika Serikat (ayo tebak, siapa jawab dia dapat, entah dapat apa, yang penting dapat). Menurut pengakuannya, dia ini ibu rumah tangga sejati, sekaligus sebagai blogger ngawur (jelaaas, kan kalo nggak ngawur, mana bisa masuk KPK). Saat ini beralamat di kawasan Pondok Kopi (bisa ditambah susu), Jakarta Timur. Paling hobi sama mengkhayal, siomay, juice sirsak, bersepeda, dengerin musik/radio, dan traveling ke tempat sepi (asal bukan kuburan dan… tempat ujian). Menyukai hujan, bulan, hijau pegunungan, bau tanah basah, alam, dan yang harum-harum. Warna favoritnya coklat, hitam, dan hijau army. Komentarnya soal prestasi? “Mungkin aku termasuk orang paling oon di dunia ini..hahaha. Tidak ada yang bisa aku banggakan, aku hanya berharap orang akan merasa senang dan damai jika bersamaku. Oya, asal tau saja, aku juga seorang wanita pendiam,” ucapnya sambil bergaya. Yang terakhir dikatakannya ini memang agak meragukan, soalnya di blog dia terkenal ramai dan julukannya pun asyik: bebek.
      BUKAN SAYA YANG NULIS LOH YAH...

      Delete
    3. bwahahahaha....aku lah si bebek ituuhh :D

      Delete
    4. dasar bebek...
      #sambil lemparin kacang...emang bebek doyan kacang gituh?

      Delete
  8. cinta ibu sepanjang masa, cinta anak sepanjang galah. ternyata itu memang benar adanya.
    bagaimana seorang anak bisa tega melihat keadaan orang tuanya yang menderita ? mungkin mereka sudah tidak punya hati. sungguh terlalu :)

    ReplyDelete